21 September 2007

TNI AL Tambah 40 Prajurit Kopaska dan Taifib

Tanggal : 21 September 2007
Sumber: http://www.antara.co.id/arc/2007/9/21/tni-al-tambah-40-prajurit-kopaska-dan-taifib/


Surabaya (ANTARA News) - Guna mewujudkan TNI AL yang besar, kuat dan profesional, Komando Pengembangan dan Pendidikan TNI AL (Kobangdikal) terus mendidik pasukan elit yang saat ini bertambah 40 personel dari Kopaska dan Taifib.

Ke-40 pasukan elit itu terdiri atas 18 prajurit Komando Pasukan Katak (Kopaska) dan 22 prajurit Intai Amfibi (Taifib) Marinir yang telah dinyatakan lulus dan masa pendidikannya ditutup oleh Wadan Kobangdikal Brigjen TNI (Mar) Halim A Hermanto di Surabaya, Jumat.

"Kita telah menambah kemampuan dan daya dobrak dengan bergabungnya 40 prajurit pasukan elit TNI AL yang memiliki kemampuan khusus ini," kata Komandan Kobangdikal Laksda TNI Edhi Nuswantoro dalam amanatnya yang dibacakan Wadan Kobangdikal.

Mereka dididik selama 10 bulan dengan pola penggemblengan yang porsinya berbeda dengan pendidikan prajurit biasa. Tingkat kesulitan, bobot dan resiko latihannya pun lebih tinggi bila dibanding dengan prajurit lainnya.

"Hal ini perlu dimaklumi karena pasukan elit memang disiapkan untuk melaksanakan tugas-tugas khusus dengan tingkat tekanan yang tinggi namun harus tetap cermat, tepat dan akurat dalam pelaksanaannya," ujarnya.

Menurutnya, Kobangdikal sebagai lembaga pencetak SDM TNI AL, tiap tahunnya senantiasa meluluskan prajurit dengan kualifikasi khusus, seperti Kopaska dan Taifib dalam jumlah terbatas. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga kualitas lulusan dalam tiap angkatan.

"Lulusan kali ini adalah pendidikan Kopaska angkatan ke-30 yang digembleng di Pusat Pendidikan Khusus Kodikopsla sementara itu pendidikan Taifib angkatan ke-22 digembleng di Pusdik Infanteri Marinir, Kodikmar," katanya.

Pendidikan dan latihan-latihan khusus yang cukup berat selama dalam pendidikan dimaksudkan untuk membentuk prajurit yang handal serta memiliki kemampuan khusus dalam tugas Kopaska dan Taifib pada setiap operasi.

"Harapan saya, pengorbanan dan kerja keras tersebut tidak boleh menjadi sia-sia, karena brevet Kopaska dan trimedia untuk Taifib tidak mudah dimiliki, melainkan harus dengan kerja keras dan semangat yang tinggi," katanya.

Komandan Kobangdikal juga mengingatkan, seorang prajurit pasukan khusus harus lebih menyadari bahwa hanya dengan sikap dan perilaku yang berdisiplin, bermoral dan profesional, TNI AL akan benar-benar bergerak maju.

Sejalan dengan pembangunan kekuatan TNI AL sampai dengan tahun 2024, maka penyiapan pasukan khusus TNI AL tentunya juga dikembangkan mengikuti pembangunan kekuatan itu sendiri.

Hal ini dilaksanakan mengingat semakin meningkatnya kualitas, kompleksitas dan modernnya ancaman yang terjadi di laut. Padahal tidak semua ancaman di laut dapat langsung dihadapi dengan kekuatan kapal perang maupun marinir.

"Ancaman terorisme, pembajakan atau perompakan di laut serta sabotase terhadap obyek vital di laut membutuhkan pasukan khusus dalam penyelesaiannya," katanya.

20 September 2007

Abrasi Ancam 40% Pantai Indonesia

Tanggal : 20 September 2007
Sumber : http://www.kapanlagi.com/h/0000191842.html


Kapanlagi.com - Abrasi atau kerusakan daratan akibat ombak masih menjadi ancaman 40% pantai di Indonesia yang tercatat mencapai 81.000 kilometer sementara target penanganan sesuai RPJM hanya 250 kilometer.

Direktur Rawa dan Pantai Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (SDA) Departemen PU, Ramli Djohan mengatakan, kerusakan akibat abrasi mencapai 30 ribu kilometer sementara anggaran yang tersedia hanya untuk 250 kilometer sampai 2009.


Sementara itu menurut Dirjen Sumber Daya Air Departemen PU, Iwan Nursyirwan mengungkapkan, anggaran untuk penanganan hal tersebut hanya sebesar Rp423 miliar sampai 2009.


Dari kerusakan yang begitu besar, kita tidak bisa berbuat banyak, selain luasnya pantai di Indonesia juga karena anggaran yang terbatas, lanjut Dirjen SDA.


Bencana alam yang mengancam pesisir dan pulau-pulau kecil, menurut Ramli Djohan, disebabkan adanya gelombang besar, pasang laut luar biasa, erosi pantai, sedimentasi pantai, tsunami, angin badai, gempa bumi dan banjir.


Hal lainnya yang tidak kalah penting ialah keacuhan sikap masyarakat dalam menjaga ekosistem.


Bencana pesisir didefinisikan sebagai peristiwa alam atau perbuatan orang yang menimbulkan perubahan fisik dan atau hayati pesisir yang mengakibatkan korban jiwa, harta dan juga kerusakan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.


Tentu fenomena dan kejadian alam ini perlu kita tangani serius sehingga tidak menimbulkan abrasi yang lebih parah, kata Ramli.


Untuk mencegah terjadinya abrasi yang lebih buruk lagi, Iwan Nursyirwan mengatakan pihaknya sudah melakukan pengamanan pantai, berupa pemecah gelombang, revetment, pembentukan tembok laut dan juga membentuk groin.


Pemecah gelombang berfungsi untuk meredam gaya gelombang sebelum mencapai pantai. Revetmen bertujuan untuk mempertahankan garis pantai dan erosi.


Sedangkan groin pada dasarnya mirip dengan tembok laut, namun istilahnya dibedakan karena tembok laut memang berupa tembok. Sementara groin dibangun di pantai pada posisi tegak lurus garis pantai agar dapat menahan material sedimen.


Selain membuat Groin, Ditjen SDA juga melakukan pengamanan pantai dengan menanam tanaman hutan pantai yang bisa meredam gaya lingkungan laut yang menimbulkan bencana.


Namun untuk tsunami, tidak dapat ditanggulangi oleh bangunan pengaman seperti Groin ataupun hutan Bakau.


Meski di Jepang ada upaya membuat tembok laut penahan tsunami, namun efektifitasnya masih harus dipertanyakan, sehingga tidak direkomendasikan di Indonesia, ujar Ramli.


Upaya penanggulangan tsunami lebih kepada tahap kesiapsiagaan dan tindak darurat melalui sistem peringatan dini yang efektif.


Mengenai kasus bencana gempa di Bengkulu, Iwan menerangkan kerusakan bibir pantai sekitar 11 kilometer. Kerusakan terutama terjadi di Bengkulu ke arah utara hingga Muko-Muko.


Kerusakannya memang tidak lurus tetapi ada di beberapa tempat sampai 3 meter daratan dan panjangnnya mencapai 11 kilometer, jelas Iwan Nursyirwan.